Senin, 25 Agustus 2014

Hukum Menggabung Kurban dengan Aqiqah




Apabila hari penyembelikan kurban bertepatan dengan hari ketujuh kelahiran bayi, apakah mencukupi untuk tujuan aqiqah juga? Bolehkah menggabung Kurban dengan Aqiqah?
Ada dua pendapat ulama tentang masalah ini: 
Pendapat pertama mengatakan : Kurban juga mencukupi Aqiqah. Pendapat ini diriwayatkan dari Imam Ahmad dan Abu Hanifah dan beberapa ulama seperti Hasan Basri, Ibnu Sirin, Qatadah dan lain-lain. (Mazhab Hanafi dan Hanbali)
Ini masalah manggabung dua niat dalam satu ibadah yang sejenis maka sah, seperti seseorang yang masuk ke masjid lalu dia niat sholat tahiyatul masjid dan sunnah rawatib maka sah dan mendapatkan pahala keduanya, begitu juga seorang yang melakukan haji tamattu’ ketika menyembelih dam dia meniatkan qurban, maka dia mendapatkan keduanya. Banyak sekali contohnya, termasuk juga sholat ied pada hari Jum’at, maka diperbolehkan tidak sholat Jum’at.
Pendapat kedua mengatakan : Tidak Sah. Ini pendapat Imam Syafi’i dan Imam Malik. Pendapat kedua ini juga diriwayatkan dari Imam Ahmad. Alasannya karena keduanya mempunyai tujuan yang berbeda dan sebab yang berbeda, itu mirip dam tamattu’ dan fidyah, maka tidak bisa saling mencukupi dan harus dilaksanakan sendiri-sendiri. Kurban adalah tebusan untuk diri sendiri sedangkan Aqiqah adalah tebusan untuk anak yang lahir, dengan menggabungkannya, akan mengaburkan tujuannya. (Mazhab Syafi’i dan Maliki)
Ini berbeda dengan menggabung dua sholat sunnah, karena tahiyatul masjid bukanlah sholat yang menjadi tujuan utama, itu hanya pelengkap masuk masjid sehingga bisa terlaksana bersama dengan sholat lainnya.

Saifurroyya
Sumber : www.pesantrenvirtual.com

KH Ahmad Badawi Mbah Badawi Kaliwungu


Komplek Makam KH. Ahmad Badawi (Bercungkup) di Kp. Djagalan, Kutoharjo, Kaliwungu


KH. Ahmad Badawi adalah putra seorang saudagar kaya sekaligus seorang kyai di kota Kaliwungu Kendal yang bernama KH. Abdurrasyid. Pada masa itu, KH. Abdurrasyid merupakan pedagang yang paling sukses, bahkan barang-barang dagangannya biasa diekspor ke negara-negara Timur Tengah. Sehingga tidaklah mengherankan jika sebagian putra-putranya dipondokkan di Kota Mekah. Diantara putra-putranya yang dipondokkan di kota Mekah adalah KH. Ahmad Badawi, KH. Utsman, dan lain-lain.
KH. Ahmad Badawi menuntut ilmu di kota Mekah selama puluhan tahun. Di samping mempelajari ilmu-ilmu syari’ah, beliau juga menghafal Al-Qur’an dan Qira’ah Sab’ah. Diantara guru-guru beliau di kota Mekah adalah Syekh Ahmad Ibadi al-Misri dan Syekh Abdullah bin Ibrahim al-Misri.
Setelah puluhan tahun menuntut ilmu di kota Mekah, akhirnya beliau kembali ke tanah kelahirannya yaitu Kaliwungu. Namun, setiba dari kota Mekah beliau tidak lantas mengajar dan mendirikan pondok, tetapi beliau terlebih dahulu tabarrukan  di Pondok Pesantren al-Munawwir Krapyak Yogyakarta asuhan KH. Muhammad Munawwir. Setelah beberapa tahun di Ponpes Krapyak, baru beliau kembali ke Kaliwungu dan mengajarkan Al-Qur’an kepada para santri serta mendirikan Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an “Miftahul Falah”.
Di samping mengajar para santri, beliau juga bekerja sebagai kusir “andong” atau “delman”. Namun, walaupun beliau bekerja sebagai kusir tetapi beliau tetap disiplin dan istiqomah mengajar santri-santrinya. Sehingga banyak santri-santri beliau yang menjadi ulama besar. Diantara santri beliau yang menjadi ulama atau tokoh masyarakat adalah :
1.) KH. Asror Ridwan, Kaliwungu, Kendal (Pendiri PPTQ Al-Asror dan Majelis Ta’limul Qur’an Kauman Kaliwungu)
2.) KH. Abu Bakar Shofwan, Gedongan, Cirebon (Pendiri Pesantren Tahfidz Gedongan Cirebon)
3.) KH. Yusuf Junaedi, Ciomas, Bogor (Pendiri Pesantren Ilmu Al-Qur’an Bogor)
4.) KH. Ahmad Sakho Muhammad, Jakarta (Pentashih Mushaf Depag RI.)
5.) KH. Mahfudz Sarbini, Kaliwungu, Kendal (Imam Masjid Al-Muttaqien Kaliwungu)
Dan masih banyak lagi santri-santri beliau yang menjadi ulama besar maupun tokoh masyarakat di daerahnya masing-masing.
 
Karomah Mbah Badawi

Dahulu, sebelum Masjid Besar al-Muttaqien Kaliwungu mengalami pemugaran sebagaimana yang nampak seperti sekarang ini, di depan Masjid al-Muttaqien tersebut terdapat suatu pasar, pasar sore namanya. Pasar sore ini bukan sekadar seperti nama sekarang ini, tetapi memang betul-betul merupakan pasar dengan segala atributnya. Dinamakan pasar sore, keramaiannya pasar sore tersebut dimulai pada sore hari. Meski sekarang wujud pasarnya tidak ada dan sekarang berubah menjadi tempat parkir milik Masjid Besar al-Muttaqien Kaliwungu,akan tetapi namanya masih sangat dikenal oleh semua orang.
Menurut berbagai sumber, di pasar sore tersebut dulu banyak sekali berkeliaran para wanita kupu-kupu malam atau wanita penghibur (WTS). Mereka mulai beroperasi tentunya pada saat malam hari. Memang banyak pihak yang sangat menyayangkan terhadap kondisi yang demikian. Hal ini sangat dapat di maklumi karena sebagai tempat yang dekat dengan tempat ibadah semestinya tempat itu harus bersih dari hal-hal yang demikian. Sebenarnya saat itu sudah ada sekelompok pemuda yang sering mengusir dan menghalau para WTS tersebut dengan sekenanya. Namun mereka ternyata harus berhadapan dengan aparat pemerintah, karena langkah tersebut dinilai bertentangan hukum yang berlaku di Indonesia dan dianggap melakukan pelecehan terhadap hak asasi manusia (HAM). Oleh sebab itu, para pemuda itu akhirnya tidak dapat berbuat seenaknya terhadap kupu-kupu malam tersebut.
Pada dasarnya, semua yang masih berotak waras memang menghendaki agar para penghibur hidung belang itu hengkang dari pasar sore tersebut. Namun, mereka tidak mempunyai kiat-kiat khusus untuk mengusir mereka. Adalah KH. Ahmad Badawi salah seorang ulama Kaliwungu yang cukup punya kepedulian tentang permasalahan tersebut. Beliau dengan inisiatif dan cara beliau sendiri, setiap malam sekitar pukul 20.00 WIB sampai pukul 22.00 WIB selalu mengunjungi lokasi tersebut, pasar sore.
Biasanya para WTS duduk dibeberapa becak yang mangkal disitu. Beliau tahu kalau yang duduk-duduk di becak-becak tersebut adalah para penghibur hidung belang. Oleh sebab itu setiap beliau mengunjungi tempat tersebut yang beliau dekati adalah tukang becaknya. Kemudian setiap WTS di dekati beliau serta di pegang punggungnya. Secara syar’i dan dhohirnya jelas cara yang demikian menyalahi hukum Islam. Sehingga pada saat itu beberapa tokoh masyarakat yang sebagian adalah keponakan beliau sendiri kurang berkenan dan tidak setuju dengan cara beliau ini, seperti KH. Humaidullah Irfan, KH. Asror Ridwan, KH. Ibadullah Irfan dan beberapa tokoh yang lain. Akan tetapi KH. Ahmad Badawi tidak memperdulikannya.
Oleh sebab itu, pernah dari keponakan beliau yang bernama Mas’ud bin H.Umar sowan (datang) dan matur pada beliau yang intinya, “ Paman, orang-orang dan juga para kyai diantaranya KH. Humaidullah Irfan, KH. Asror Ridwan, KH. Ibadullah Irfan dan kyai-kyai yang lain sangatlah malu bila melihat paman sedang ngobrol dengan wanita malam (WTS). Para kyai  bilang sama saya sangatlah malu jika melihat tindakan Panjenengan yang demikian, kalau bisa jangan begitu. Saya pun sebagai keponakan paman juga merasakan malu jika paman seperti itu”. Apa jawab beliau, “ Hai Mas’ud, aku akan memberimu hadiah uang saya yang tersimpan disabuk (ikat pinggang)ku dan akan aku hadiahkan kamu semua sebanyak Rp.1.500.000,- jika kamu berani mengikuti tindakan saya”. Meski diulang sampai tiga kali, Mas’ud sebagai keponakan tidak mampu menjawab sepatah kata pun. Intinya Mas’ud tidak sanggup. Selanjutnya Mas’ud pun ditanya oleh beliau, “ Apakah kamu tahu apa yang aku lakukan?” Mas’ud menjawab, “saya tidak tahu maksud dan tujuan paman”, “ kalau kamu tidak tahu, ya  sudah diam saja, dan kalau kamu ingin tahu jawabannya, nanti kalau aku sudah tidak ada (wafat)” pesan beliau.
Setelah beliau wafat, memang benar,  ternyata para pekeja wanita malam (WTS) sudah bersih sama sekali hingga sekarang ini, perjudian dipasar pun sudah tidak ada. Ini dirasakan pada tahun 1977 M, setelah KH. Ahmad Badawi wafat. Para kyai dan masyarakat Kaliwungu pun baru mengakui usaha dan jasa KH. Ahmad Badawi bin KH. Abdurrasyid. Dan Alhamdulillah kota Kaliwungu sekarang sudah bersih dari wanita pekerja malam.
Ini semua, antara lain berkat usaha dari beliau KH. Ahmad Badawi yang begitu gigih, berani dan sanggup menghadapi semua ejekan dan cemoohan dari berbagai pihak. Dan para kyai dan masyarakat pada saat itu luar biasa dalam merendahkan dan memojokkan beliau. Mungkin ilmu yang diterapkan belum banyak dimengerti oleh kyai-kyai lain dan masyarakat pada umumnya. Oleh sebab itu, setelah kewafatan beliau, hampir semua orang mengakui bahwa beliau adalah wali dan bukan orang sembarangan. Dan sekarang kita semua mengambil buah dari jerih payah perjuangan beliau. Sehingga sekarang nampak lebih indah dan tentram dibanding dengan masa-masa sebelumnya. Setelah beliau wafat pada tahun 1977 M., KH. Muslih Mranggen Demak pernah cerita di depan para santrinya bahwa KH. Ahmad Badawi bin KH. Abdurrasyid itu bukan orang biasa, beliau adalah ulama bashar dan seorang waliyullah.

Wallahu A’lamu bi Muradih

Disusun Oleh SaifurroyyaDari Berbagai Sumber

Baca Juga :


KH. Irfan (KyaiIrfan)
KH. Asror Ridwan(Mbah Asror)
KH. Ahmad Ru’yat(Mbah Rukyat)
KH. Musyafa’(Wali Musyafa’)
KH. AhmadBadawi (Mbah Badawi)
KH. Musa (Kyai Musa)
KH. Asy’ari (Kyai Guru)

Minggu, 24 Agustus 2014

Kisah Cinta Ali bin Abi Thalib dengan Fatimah Az Zahra




Inilah kisah cinta suci antara Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra. Cinta sahabat Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra memang luar biasa indah, cinta yang selalu terjaga kerahasiaannya dalam sikap, kata, maupun ekspresi. Hingga akhirnya Allah menyatukan mereka dalam sebuah ikatan suci pernikahan.
Konon, karena saking teramat rahasianya, setan saja tidak tahu urusan cinta diantara keduanya. Sudah lama Ali terpesona dan jatuh hati pada Fatimah, ia pernah tertohok dua kali saat Abu Bakar dan Umar melamar Fatimah. Sementara dirinya belum siap untuk melakukannya.
Namun, kesabaran beliau berbuah manis, lamaran kedua orang sahabat yang sudah tidak diragukan lagi keshalihannya tersebut ternyata ditolak oleh Rasulullah. Hingga akhirnya Ali memberanikan diri, dan ternyata lamarannya yang mesti hanya bermodal baju besi diterima oleh Rasulullah.
Di sisi lain, Fatimah ternyata juga sudah lama memendam cintanya kepada Ali. Dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari setelah keduanya menikah, Fatimah berkata kepada Ali,
"Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu, aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta kepada seorang pemuda dan aku ingin menikah dengannya",
Ali pun bertanya mengapa ia tak mau menikah dengannya, dan apakah Fatimah menyesal menikah dengannya.
Sambil tersenyum Fatimah Az-Zahra menjawab, "Pemuda itu adalah dirimu".
Diceritakan, Ali Bin Abi Thalib waktu itu ingin melamar Fatimah, putri nabi Muhammad saw. Tapi karena dia tidak mempunyai uang untuk membeli mahar, maka ia membatalkan niat itu. Ali segera berhijrah untuk bekerja dan mengumpulkan uang. Pada saat Ali sedang bekerja keras, ia mendengar kabar kalau Abu Bakar ternyata melamar Fatimah. Wah, bagaimana agaknya perasaan Ali, wanita yang sudah dia inginkan dilamar oleh seseorang yang ilmu agamanya lebih hebat dari dia. Tetapi Ali tetap bekerja dengan giat.
Lalu setelah beberapa lama Ali mendengar kabar kalau lamaran Abu Bakar kepada Fatimah ditolak. Ali tertegun dan sedikit bergembira tentunya, kata Ali “waah, saya masih punya kesempatan ”. Setelah mendengar kabar itu, Ali bekerja lebih giat lagi agar cepat mengumpulkan uang dan segera melamar Fatimah. Tapi tak lama setelah itu, Ali mendengar kabar kalau Umar Bin Khatab melamar Fatimah. Wah, sekali lagi Ali mendahulukan orang lain, bagaimana perasaannya? Tapi tak berapa lama Ali mendengar kalau lamaran Umar bin Khatab ditolak. betapa senangnya Ali, mendengar kabar itu.
Tapi tak lama, kesenangan itu kembali pudar  karena terdengar kabar lagi, ternyata Utsman bin Affan melamar Fatimah. ini sudah yang ketiga kalinya, kata Ali “mungkin kali ini diterima. Kalaulah Usman tidak melamar Fatimah secepat ini, InsyaAllah tidak lama lagi saya akan melamar Fatimah, tapi , apa hendak dikata , adakah mau mengalah?".
Dan sekali lagi, tidak berapa lama dari itu, kabar ditolaknya lamaran Utsman bin Affan pun terdengar lagi, betapa bahagianya Ali. Semangat Ali untuk melamar Fatimah pun berkobar lagi, dan semangat itu didukung oleh sahabat-sahabat Ali. Kata sahabatnya “ pergilah Ali, lamar Fatimah sekarang, tunggu apa lagi?  kamu kan sudah bekerja keras selama ini, kamu juga sudah mengumpulkan harta dan cukup untuk membeli mahar. tunggu apa lagi? Tunggu yang ke4 kalinya? baik cepat!”
Dengan segera Ali memeberanikan diri untuk menghadap ke Nabi Muhammad saw. dengan tujuan melamar Fatimah, dan sahabat-sahabat tahu? lamarannya diterima!
Ternyata memang dari dulu Fatimah az-Zahra sudah mempunyai perasaan dengan Ali dan menunggu Ali untuk melamarnya. Begitu juga dengan Ali, dari dulu dia juga sudah mempunyai perasaan dengan Fatimah az-Zahra. Tapi mereka berdua sabar menyembunyikan perasaan itu sampai saatnya tiba, sampai saatnya Ijab Kabul disahkan. Walaupun Ali sudah merasakan kekecewaan 3 kali mendahulukan orang lain, akhirnya kekecewaan itu terbayar juga.
“Jodoh memang tidak kemana”,dari cerita itu, lebih memperjelas lagi kan bahwa “Cinta itu, mengambil kesempatan , atau mempersilakan yang lain”
Cinta adalah hal fitrah yang tentu saja dimiliki oleh setiap orang, namun bagaimanakah membingkai perasaan tersebut agar bukan Cinta yang mengendalikan Diri kita, Tetapi Diri kita yang mengendalikan Cinta. Mungkin cukup sulit menemukan teladan dalam hal tersebut disekitar kita saat ini. Walaupun bukan tidak ada.. barangkali, kita saja yang tidak mengetahuinya. Dan inilah kisah dari Khalifah ke-4, Suami dari Putri kesayangan Rasulullah tentang membingkai perasaan dan bertanggung jawab akan perasaan tersebut “Bukan janj-janji”
Akhirnya Ali pun menikahi Fatimah az-Zahra
Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan sahabat-sahabatnya tapi Nabi berkeras agar ia membayar bakinya, Itu hutang. Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakar, Umar dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah.
Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti. Ali adalah gentleman sejati.,“Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!” Inilah jalan cinta para pejuang.
Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggungjawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti Ali.
Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian. Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi, dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari (setelah mereka menikah) Fatimah berkata kepada Ali,
“Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta pada seorang pemuda”
Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mau menikah denganku? dan Siapakah pemuda itu”
Sambil tersenyum Fatimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu”

Dalam riwayat lain diceritakan:
Dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari setelah keduanya menikah, Fatimah berkata kepada Ali:
Fatimah : “Wahai suamiku Ali, aku telah halal bagimu, aku pun sangat bersyukur kepada Allah karena ayahku memilihkan aku suami yang tampan, sholeh, cerdas dan baik sepertimu”.
Ali : “Aku pun begitu wahai Fatimahku sayang, aku sangat bersyukur kepada Allah akhirnya cintaku padamu yang telah lama kupendam telah menjadi halal dengan ikatan suci pernikahanku denganmu.”
Fatimah : (berkata dengan lembut) “Wahai suamiku, bolehkah aku berkata jujur padamu? karena aku ingin terjalin komunikasi yang baik diantara kita dan kelanjutan rumah tangga kita”.
Ali : “Tentu saja istriku, silahkan, aku akan mendengarkanmu…”.
Fatimah : “Wahai Ali suamiku, maafkan aku, tahukah engkau bahwa sesungguhnya sebelum aku menikah denganmu, aku telah lama mengagumi dan memendam rasa cinta kepada seorang pemuda, dan aku merasa pemuda itu pun memendam rasa cintanya untukku. Namun akhirnya ayahku menikahkan aku denganmu. Sekarang aku adalah istrimu, kau adalah imamku maka aku pun ikhlas melayanimu, mendampingimu, mematuhimu dan menaatimu, marilah kita berdua bersama-sama membangun keluarga yang diridhoi Allah”
Sungguh bahagianya Ali mendengar pernyataan Fatimah yang siap mengarungi bahtera kehidupan bersama, suatu pernyataan yang sangat jujur dan tulus dari hati perempuan sholehah. Tapi Ali juga terkejut dan agak sedih ketika mengetahui bahwa sebelum menikah dengannya ternyata Fatimah telah memendam perasaan kepada seorang pemuda. Ali merasa agak sedih karena sepertinya Fatimah menikah dengannya karena permintaan Rasul yang tak lain adalah ayahnya Fatimah, Ali kagum dengan Fatimah yang mau merelakan perasaannya demi taat dan berbakti kepada orang tuanya yaitu Rasul dan mau menjadi istri Ali dengan ikhlas.
Namun Ali memang sungguh pemuda yang sangat baik hati, ia memang sangat bahagia sekali telah menjadi suami Fatimah, tapi karena rasa cintanya karena Allah yang sangat tulus kepada Fatimah, hati Ali pun merasa agak bersalah jika hati Fatimah terluka, karena Ali sangat tahu bagaimana rasanya menderita karena cinta. Dan sekarang Fatimah sedang merasakannya. Ali bingung ingin berkata apa, perasaan didalam hatinya bercampur aduk. Di satu sisi ia sangat bahagia telah menikah dengan Fatimah, dan Fatimah pun telah ikhlas menjadi istrinya. Tapi disisi lain Ali tahu bahwa hati Fatimah sedang terluka. Ali pun terdiam sejenak, ia tak menanggapi pernyataan Fatimah.
Fatimah pun lalu berkata, “Wahai Ali suamiku sayang, Astagfirullah, maafkan aku. Aku tak ada maksud ingin menyakitimu, demi Allah aku hanya ingin jujur padamu, saat ini kaulah pemilik cintaku, raja yang menguasai hatiku.”.
Ali masih saja terdiam, bahkan Ali mengalihkan pandangannya dari wajah Fatimah yang cantik itu.
Melihat sikap Ali, Fatimah pun berkata sambil merayu Ali, “Wahai suamiku Ali, tak usah lah kau pikirkan kata-kataku itu, marilah kita berdua nikmati malam indah kita ini. Ayolah sayang, aku menantimu Ali”.
Ali tetap saja terdiam dan tidak terlalu menghiraukan rayuan Fatimah, tiba-tiba Ali pun berkata, “Fatimah, kau tahu bahwa aku sangat mencintaimu, kau pun tahu betapa aku berjuang memendam rasa cintaku demi untuk ikatan suci bersamamu, kau pun juga tahu betapa bahagianya kau telah menjadi istriku. Tapi Fatimah, tahukah engkau saat ini aku juga sedih karena mengetahui hatimu sedang terluka. Sungguh aku tak ingin orang yang kucintai tersakiti, aku bisa merasa bersalah jika seandainya kau menikahiku bukan karena kau sungguh-sungguh cinta kepadaku. Walaupun aku tahu lambat laun pasti kau akan sangat sungguh-sungguh mencintaiku. Tapi aku tak ingin melihatmu sakit sampai akhirnya kau mencintaiku.”.
Fatimah pun tersenyum mendengar kata-kata Ali, Ali diam sesaat sambil merenung, tak terasa mata Ali pun mulai keluar air mata, lalu dengan sangat tulus Ali berkata lagi, “Wahai Fatimah, aku sudah menikahimu tapi aku belum menyentuh sedikit pun dari dirimu, kau masih suci. Aku rela menceraikanmu malam ini agar kau bisa menikah dengan pemuda yang kau cintai itu, aku akan ikhlas, lagi pula pemuda itu juga mencintaimu. Jadi aku tak akan khawatir ia akan menyakitimu. Aku tak ingin cintaku padamu hanya bertepuk sebelah tangan, sungguh aku sangat mencintaimu, demi Allah aku tak ingin kau terluka… Menikahlah dengannya, aku rela”.
Fatimah juga meneteskan airmata sambil tersenyum menatap Ali, Fatimah sangat kagum dengan ketulusan cinta Ali kepadanya, ketika itu juga Fatimah ingin berkata kepada Ali, tapi Ali memotong dan berkata, “Tapi Fatimah, sebelum aku menceraikanmu, bolehkah aku tahu siapa pemuda yang kau pendam rasa cintanya itu?, aku berjanji tak akan meminta apapun lagi darimu, namun izinkanlah aku mengetahui nama pemuda itu.”
Airmata Fatimah mengalir semakin deras, Fatimah tak kuat lagi membendung rasa bahagianya dan Fatimah langsung memeluk Ali dengan erat. Lalu Fatimah pun berkata dengan tersedu-sedu,“Wahai Ali, demi Allah aku sangat mencintaimu, sungguh aku sangat mencintaimu karena Allah."
Berkali-kali Fatimah mengulang kata-katanya. Setelah emosinya bisa terkontrol, Fatimah pun berkata kepada Ali, “Wahai Ali, Awalnya aku ingin tertawa dan menahan tawa sejak melihat sikapmu setelah aku mengatakan bahwa sebenarnya aku memendam rasa cinta kepada seorang pemuda sebelum menikah denganmu, aku hanya ingin menggodamu, sudah lama aku ingin bisa bercanda mesra bersamamu. Tapi kau malah membuatku menangis bahagia. Apakah kau tahu sebenarnya pemuda itu sudah menikah”.
Ali menjadi bingung, Ali pun berkata dengan selembut mungkin, walaupun ia kesal dengan ulah Fatimah kepadanya ”Apa maksudmu wahai Fatimah? Kau bilang padaku bahwa kau memendam rasa cinta kepada seorang pemuda, tapi kau malah kau bilang sangat mencintaiku, dan kau juga bilang ingin tertawa melihat sikapku, apakah kau ingin mempermainkan aku Fatimah?, sudahlah tolong sebut siapa nama pemuda itu? Mengapa kau mengharapkannya walaupun dia sudah menikah?”.
Fatimah pun kembali memeluk Ali dengan erat, tapi kali ini dengan dekapan yang mesra. Lalu menjawab pertanyaan Ali dengan manja, “Ali sayang, kau benar seperti yang kukatakan bahwa aku memang telah memendam rasa cintaku itu, aku memendamnya bertahun-tahun, sudah sejak lama aku ingin mengungkapkannya, tapi aku terlalu takut, aku tak ingin menodai anugerah cinta yang Allah berikan ini, aku pun tahu bagaimana beratnya memendam rasa cinta apalagi dahulu aku sering bertemu dengannya. Hatiku bergetar bila ku bertemu dengannya. Kau juga benar wahai Ali cintaku, ia memang sudah menikah. Tapi tahukah engkau wahai sayangku, pada malam pertama pernikahannya ia malah dibuat menangis dan kesal oleh perempuan yang baru dinikahinya”
Ali pun masih agak bingung, tapi Fatimah segera melanjutkan kata-katanya dengan nada yang semakin menggoda Ali, ”Kau ingin tahu siapa pemuda itu? Baiklah akan kuberi tahu. Sekarang ia berada disisiku, aku sedang memeluk mesra pemuda itu, tapi kok dia diam saja ya, padahal aku memeluknya sangat erat dan berkata-kata manja padanya, aku sangat mencintainya dan aku pun sangat bahagia ternyata memang dugaanku benar, ia juga sangat mencintaiku…”
Ali berkata kepada Fatimah, “Jadi maksudmu…?”
Fatimah pun berkata, “Ya wahai cintaku, kau benar, pemuda itu bernama Ali bin Abi Thalib sang pujaan hatiku”.
Subhanallah, Betapa Indahnya Kisah Cinta antara Ali Bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra. Maha Suci Allah, Dia-lah yang mengatur segalanya. Dia-lah yang telah mengatur jodoh, rezeki, pertemuan, dan maut dari setiap insan di dunia.
Pesan Rasulullah kepada Fatimah az-Zahra
Ayahanda yang penyayang terus merenung puterinya dengan pandangan kasih sayang, "Puteriku, maukah engkau kuajarkan sesuatu yang lebih baik daripada apa yang kau pinta itu?"
"Tentu sekali ya Rasulullah," jawab Siti Fatimah kegirangan.
Rasulullah saw. bersabda, "Jibril telah mengajarku beberapa kalimah. Setiap kali selesai shalat, hendaklah membaca Subhanallah sepuluh kali, Alhamdulillah sepuluh kali dan Allahu Akbar sepuluh kali. Kemudian ketika hendak tidur baca Subhanallah, Alhamdulillah dan Allahu Akbar ini sebanyak tiga puluh tiga kali."
Ternyata amalan itu telah memberi kesan kepada Siti Fatimah. Semua kerja rumah dapat dilaksanakan dengan mudah dan sempurna meskipun tanpa pembantu rumah.
Itulah hadiah istimewa dari Allah buat hamba-hamba yang hatinya senantiasa mengingat-Nya.
Cerita ini adalah dikisahkan menurut penceritaan yang mudah untuk difahami,mudah-mudahan bermanfaat.
"Jika kamu memelihara dirimu dari suatu perkara yang haram karena Allah swt. diatas wanita yang dicintaimu dengan banyak bersabar. Insya Allah, Allah akan menghalalkannya untukmu atas kesabaranmu karena Allah"

Oleh Saifurroyya dari Berbagai Sumber