Minggu, 17 Agustus 2014

Nasihat Mulia Dalam Taurat Nabi Musa as



Pesan-pesan hikmah ini adalah nasihat mulia yang dinukil oleh Amirul Mukminin Ali bin Abu Thalib melalui lisan Nabi Musa bin Imran dari bahasa Ibrani ke dalam bahasa Arab. Sedang sumber nasihat mulia ini diambil dari kitab Hadis-e Qudsikarya Thahir Khusynuwis. Kumpulan nasihat ini terdiri dari 40 surat pilihan dari kitab Taurat (yang otentik) yang Allah wahyukan kepada Nabi Musa as. Dalam kitab Tafsir Abul Fadhl disebutkan bahwa kitab Taurat (yang otentik) terdiri dari 1.000 surat. Setiap surat terdiri dari 1.000 ayat, seperti surat al-Baqarah yang mencakup 1.000 perintah, 1.000 larangan,  1.000 janji, dan 1.000 ancaman.

Saya sengaja mengetengahkan nasihat mulia ini dengan berkala, agar mudah direnungkan dan direalisasikan dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Mudah-mudahan, nasihat mulia ini dapat mendatangkan manfaat bagi pengarang kitab, saya, dan seluruh pembaca yang mau merenungkan dan merealisasikannya.

Surat I
Allah swt. Berfirman:
Aku heran akan orang yang meyakini kematian; bagaimana mungkin ia (masih) merasa senang. Aku heran akan orang yang meyakini hari Hisab (perhitungan amal perbuatan; bagaimana mungkin ia (masih sibuk) mengumpulkan harta. Aku heran terhadap orang yang meyakini (adanya) siksa kubur; bagaimana mungkin ia (masih sempat) tertawa. Aku heran atas orang yang meyakini punahnya dunia; bagaimana mungkin ia (masih) merasa tentram di dalamnya. Aku heran terhadap orang yang meyakini kekalnya (kehidupan) akhirat dan kenikmatannya yang abadi; bagaimana mungkin ia (masih sempat) bersikap santai.
Aku heran terhadap orang yang pandai berbicara, sementara hatinya (tetap) kotor. Aku heran atas orang yang (senantiasa) menyucikan diri dengan air, namun ia tidak (pernah mau) menyucikan hatinya. Aku heran terhadap orang yang (masih) sibuk mencari aib-aib (keburukan) orang lain, sementara ia melupakan aibnya sendiri. Aku heran akan orang yang mengetahui bahwa Allah mengawasi perbuatannya; bagaimana mungkin ia (masih) berani bermaksiat kepada-Nya. Aku heran akan orang yang mengetahui bahwa dirinya bakal mati sendirian, memasuki alam kubur seorang diri, dan diperhitungkan amal perbuatannya tanpa kehadiran seorang teman; bagaimana mungkin ia (masih) merasa terhibur dengan manusia (lain).
Dan Allah Ta’ala Berfirman:
Tiada Tuhan (yang patut disembah) selain Allah, Muhammad adalah hamba-Ku dan utusan-Ku.
Surat II

Allah swt. Berfirman :
Zat-Ku bersaksi bagi Zat-Ku sendiri bahwa tiada Tuhan (yang patut disembah) kecuali Aku yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi-Ku. Dan Muhammad saw. (semoga Allah melimpahkan shalawat atasnya dan atas keluarganya) adalah hamba-Ku dan utusan-Ku.
Siapa saja yang tidak rela dengan keputusan-Ku, tidak bersabar atas cobaan-Ku, tidak bersyukur atas nikmat-Ku, tidak merasa puas atas pemberian-Ku, maka hendaknya ia mencari Tuhan selain Aku dan keluar dari naungan langit-Ku. Siapa pun yang merasa sedih atas dunia (nasib), maka seakan-akan ia (telah) marah terhadap-Ku. Barang siapa yang mengeluhkan sebuah musibah yang dialaminya kepada selain-Ku, maka itu berarti ia (telah) mengadukan Aku. Siapa saja yang menghampiri orang kaya dan merendahkan diri di hadapannya lantaran kekayaannya, maka sepertiga agamanya akan musnah. Siapa pun yang memukul wajah (nya sendiri) lantaran kematian seseorang, maka seakan-akan ia mengacungkan tombak untuk memerangi-Ku.
Barang siapa yang menghancurkan kuburan, maka seakan-akan ia menghancurkan Ka’bah-Ku dengan tangannya. Siapa saja yang tidak peduli dari mana ia (memperoleh) makanan, maka Aku tidak (akan) peduli dari pintu mana Aku akan memasukkannya ke dalam neraka Jahanam. Siapa pun yang agamanya tidak bertambah, maka ia berada dalam kekurangan. Barang siapa yang berada dalam kekurangan (agamanya tidak bertambah), maka kematian lebih baik baginya. Siapa saja yang mengamalkan apa yang diketahuinya, maka Aku akan menambah ilmu (yang diketahui)nya itu.
 
Ditulis Oleh :  
al-Faqier ila Rahmati Rabbih
Saifurroyya
Sumber : Buku Pesan Ilahi Dalam Taurat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar